Skip navigation

Pagi itu adalah hari untuk sekolah.Di luar sedanga hujan,tetapi hanya seperti gerimis saja, saya dengan malas pergi ke sekolah yang jaraknya hanya 3 menit berjalan dari rumah saya. Saat saya sampai di situ, pelajaran pertama hampir sudah hampir dimulai, tetapi saya hanya melihat beberapa dari teman-teman saya tidak ada di kelas. Kira-kira 20 menit kemudian, satu-persatu mereka mulai berdatangan dengan beralasan mereka terkena macet di jalan karena hujan yang makin deras itu. Saya tetap duduk seperti tertidur di meja saya sambil memperhatikan hujan yang bertambah deras itu. Pada waktu istirahat, saya tidak tahu kenapa tetapi diumumkan bahwa murid-murid semuanya dibubarkan. Mendengar itu saya langsung berlari ke rumah, tanpa memperdulikan hujan yang deras itu karena saya sedang senang.

Saat saya sudah sampai, saya melihat bahwa airnya sudah mulai tinggi dan tidak ada tanda bahwa hujannya akan berhenti, malah bertambah deras. Saat itu, saya mengharapkan banjir agar sekolah diliburkan, lalu saya langsung bermain, tetapi tidak lama kemudian listrik mulai mati. Saya langsung berlari ke jendela dan melihat ke luar, gardu listrik sudah terendam air dan listriknya harus dimatikan agar tidak rusak dan agar warga sekitar tidak tersterum saat air mulai masuk ke rumah.

Beberapa jam kemudian, saya mulai kebosanan karena tidak ada yang bisa dilakukan. Bermain komputer tidak bisa karena listrik mati, bermain di luar tidak bisa karena sedang hujan dan air yang semakin meninggi itu mulai menjadi banjir. Saya masih berpikir itu lebih baik daripada sekolah, tetapi waktu malam, saya tidak bisa membaca karena penerangannya hanya ada api yang berasal dari lilin, saat mau tidurpun udaranya sangat panas karena tidak bisa menyalakan AC, kamipun terpaksa harus mengungsi ke rumah nenek saya yang tidak kebanjiran. Saya mulai berharap agar banjir cepat selesai, sekarang barulah saya menyadari bahwa belajar yang membosankan lebih baik daripada mengalami banjir.

Seminggu kemudian airpun sudah surut dan saat sekolah sudah mulai sayapun mulai berpikir lagi bahwa banjir lebih baik daripada sekolah.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.